Selasa, 04 Oktober 2016

Status FB 3-4 Oktober 2016

Izzatush Shobihah
4 Oktober pukul 12:44 · 

Jika masih seperti ini, suatu hari di suatu kaum nanti, pacaran akan menjadi syarat sah nikah. -_-
#iZzatQuote
_________

Izzatush Shobihah
4 Oktober pukul 10:55 · 

Hihihi, masih nemu loh yang kayak ginian.

[Peringatan: Ini hasil pengamatan mata telanjang Izzatush. Yang gak suka tulisan panjang atau gak suka yang telanjang-telanjang, abaikan!]

Saat si anak jatuh setelah berlarian, si ibu tidak mendekati si anak sambil jongkok, tertawa, mengajaknya bangun, lalu kembali berlari.
Dia justru langsung menggendongnya, memukul tanahnya yang dianggap membawa sial, lalu "Cup, cup, cup, sayang. Kodoknya udah lari."

Saat si anak naik-naik sofa atau jok motor lalu berdiri tanpa pegangan apa-apa, si ibu langsung meraihnya sebelum sang anak sempat melompat. 
Bukannya membimbing si kecil untuk bisa melompat dengan aman, si ibu justru memberondongnya dengan alasan, "Hayo, turun gak! Sukanya bikin orang tua ketar-ketir! Wong dieman-eman kok malah bahayain diri sendiri. Nanti kalau jatuh gimana?"

Sadarkah kita? Dengan sederetan sikap ini kita sudah mengajari hal-hal mengerikan kepada si kecil.

Pertama, jatuh (gagal) itu gak boleh. *harusnya sukses juga gak boleh ya, biar fair, hehehe*
Kedua, kalau gagal, salahkan pihak lain.
Ketiga, ini cukup aneh, untuk mendapat hiburan, berbohonglah! *Apa hubungannya coba, menenangkan bayi dengan kodok yang bahkan gak ada di lokasi jatuh, tapi justru 'divonis' udah lari? -_- *

Dunia anak itu dunia penuh kesenangan.
Selama tidak mengganggu kesehatannya, dalam dosis tertentu, anak juga butuh jatuh, mengalami kegagalan, berada di dalam ancaman, dan merasakan tekanan.
Dan percaya atau tidak, di usianya yang dini, anak-anak menganggap itu semua adalah sesuatu yang baru dan menyenangkan untuk dipelajari.
Setidaknya sampai kita memberikan sugesti bahwa ujian itu harus dihindari, bukan dihadapi. Disingkirkan, bukan diselesaikan. 
#iZzatQuote
_________

Izzatush Shobihah
4 Oktober pukul 0:53 · 

Apakah cuma saya yang pernah diinbox siswa-siswi luar negeri karena mereka diberi tugas gurunya untuk chatting dengan netizen asing?
#iToezAsks

Barangkali saya 'digeruduk' kawan-kawan dari India, Perancis, dan Pakistan ini sebagai akibat jangka panjang karena dulu saya sering chatting dengan user Facebook dari Tiongkok (sebelum Facebook diblokir di sana) dan Australia dengan tujuan iseng. Hihihi...

Karena itu, Kisanak, belajarlah dari kesalahan saya. Jangan lakukan kesalahan yang sama. *ya iyalah, kreatif dikit napa!*

Isengmu bisa jadi awal karmamu. Dan karma itu seperti jodoh. Gak bakal kemana.
#iZzatQuote
_______

Izzatush Shobihah
3 Oktober pukul 11:23 · 

Kira-kira nih ye Bang, mana yang lebih baik: melanjutkan debat melawan orang gila karena yakin menang atau meninggalkan debat itu dengan resiko dianggap bodoh gak berilmu?
#iToezAsks

*habis dicurhati*
____________

Status FB 2 Oktober 2016

Izzatush Shobihah
2 Oktober pukul 18:14 · 

Ini yang bikin khawatir. Apalagi pas lihat si kecil yang masih berusia 3 tahun sedang belajar mengeja kata DOMBA dengan ucapan di-ou-em-bi-a. Kok campuran? Bisa jadi ini karena video yang dia tonton kebanyakan berbahasa asing.

Kalau dulu, dengan tujuan tertentu, sebagian guru saya 'mengutamakan' percakapan dengan bahasa asing (Arab, Inggris, Korea), dan sampai sekarang belum bisa hilang, mulai sekarang saya harus memastikan anak saya menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar serta bahasa Jawa yang lebih krama.
Bukankah bahasa ibu harusnya lebih utama dari bahasa tetangga, walau sama-sama pentingnya?

Bila belum bisa menginternasionalkan Bahasa Indonesia, setidaknya sadarkan diri sendiri bahwa bahasa daerah dan Bahasa Indonesia adalah 'nasi', sementara bahasa asing adalah 'lauk'.
#iZzatQuote

Sumanto Al Qurtuby
26 September pukul 20:47 · 

Antara "Abi-Umi" dan "Papa-Mama"

Iseng tapi serius, serius tapi iseng saya bertanya ke murid-murid Saudi-ku tentang kata apa yang sering mereka pakai untuk memanggil bapak-ibu mereka. Menurut mereka, untuk masyarakat urban / kota di Saudi dan Arab Teluk, khususnya kalangan muda dan anak-anak, yang umum digunakan adalah "papa" (Arabic: "ba-ba") untuk "ayah" dan "mama" (Arabic: ma-ma) untuk ibu. Sementara bagi yang tua-tua, mereka menggunakan kata "abi" (untuk ayah) dan "umi" (untuk ibu). Memang dalam berbagai iklan di TV, kata "papa-mama" yang sering diucapkan ketimbang abi-umi.

Beberapa murid-muridku bahkan menjelaskan kalau kata "abi-umi" sudah mulai kedaluarsa dan ditinggalkan karena dianggap "kurang trendi" dan "kurang modern". Bagi sebagian dari mereka kata "papa-mama" dipandang lebih modern dan "menginternasional".

Sebagai dampak dari globalisasi, modernisasi, internetisasi dan sasi-sasi yang lain, memang banyak sekali bermunculan kosakata-kosakata Arab baru yang merupakan hasil dari proses "Arabisasi" atas sejumlah bahasa asing, khususnya Inggris. Karena didukung oleh media yang superkuat dan "kapitalisme global" yang menggurita, Bahasa Inggris memang telah memakan banyak korban di berbagai negara.

Bahasa Inggris bukan hanya "mencaplok" Bahasa Arab tetapi juga bahasa-bahasa lokal lain, termasuk Bahasa Indonesia. Ibaratnya, Bahasa Inggris itu seperti "Transnational Cooperation" (TNC), sementara bahasa-bahasa lain itu seperti "home industry" yang susah untuk berkembangbiak dan berkompetisi karena berbagai keterbatasan.

Sejak beberapa dekade lalu, Bahasa Inggris telah mengepung Arab Teluk sehingga membuat Bahasa Arab terpaksa (atau dipaksa) beradaptasi. Realitas ini telah menyebabkan munculnya berbagai kosakata baru dalam Bahasa Arab modern di satu sisi. Sementara di pihak lain, dengan maraknya Bahasa Arab modern yang dipakai di berbagai media, ruang-ruang publik, dan instistusi pemerintah dan non-pemerintah ini telah mengakibatkan punahnya Bahasa Arab klasik (fushah) dalam memori masyarakat Arab, termasuk Saudi.

Meluasnya penggunaan "papa-mama" ketimbang "abi-umi" hanyalah contoh kecil dari proses "pengglobalan" Bahasa Arab kotemporer yang oleh mereka dipandang lebih "modern" dan "gaul". Fenomena ini sepertinya bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Indonesia, dimana penyebutan "abi-umi" oleh sebagian kelompok Muslim dipandang "lebih Islami" atau "lebih religius" sedangkan panggilan "papa-mama" dianggap "lebih sekuler" atau "tidak Islami". Di Saudi, kalaupun ada yang memanggil "abi-umi" ya biasa saja hanya sebuah panggilan, tidak ada sangkut-pautnya dengan religiusitas seseorang, sebagaimana kita memanggil ayah-ibu kita dengan "bapake" atau "simboke".

Jabal Dhahran, Arabia
_________

Izzatush Shobihah
2 Oktober pukul 17:20 · 

Ta'aruf itu bikin kesepakatan. Tentang apa? Tentang apapun.

Contohnya, sepakat kalau ada masalah diselesaikan malam itu juga sebisa mungkin tanpa melibatkan orang lain.

Sepakat si istri boleh kerja kalau si anak udah masuk pesantren.

Sepakat tentang alokasi penghasilan dipakai untuk apa aja. Banyak pilihannya: pakai 30-30-30-10 (30% untuk kebutuhan harian, 30% untuk kebutuhan bulanan, 30% untuk kebutuhan tahunan, 10% untuk sedekah), pakai 20-20-50-10 (20% untuk orang tua suami, 20% untuk orang tua istri, 50% untuk kebutuhan sekarang, 10% untuk pengeluaran tak terduga), atau pakai 25-30-20-15-5-5 (25% untuk kebutuhan anak, 30% untuk kebutuhan rumah tangga, 20% untuk kebutuhan suami istri, 15% untuk investasi, 5% untuk aktualisasi diri/kursus/beli buku, 5% untuk bersosialisasi). Banyak alternatifnya.

Juga sepakat bila ada yang terbukti selingkuh, gula dalam kopi boleh diganti dengan sianida.

Ta'aruf itu yang penting sepakat, agar siap membangun keluarga sakinah.
#iZzatQuote
_________

Status FB 1 Oktober 2016

Izzatush Shobihah memperbarui bionya.
1 Oktober pukul 18:57 · 

Selamat tahun baru 1 Muharram 1438 H. Wish you a blessing Hijriyah new year. :)
__________

Izzatush Shobihah
1 Oktober pukul 18:37 · 

Hidup harus positif. Tindakan positif. Ucapan positif. Pikiran juga positif. Misal:

"Ma, aku nikah lagi."
"Lho, kok gak bilang-bilang, Pa?"
"Nanti Mama marah..."
"Kalau Papa bilang kan Mama bisa bantu-bantu, Pa. Mana ndadak banget lagi. Mama kan jadi sungkan gak ngasih apa-apa. Trus sekarang dia tinggal dimana?"
"Di pinggir sungai, gubuk yang ada warungnya itu loh, Ma."
"Ya Allah, Papa kok tega sih biarin istri muda tinggal di tempat kumuh gitu? Kalau Mama dapet rumah sama mobil, dia mestinya juga dapet dong. Papa harus adil, gak boleh pilih kasih kayak gitu."
"Jadi, Mama gak marah?"
"Ngapain sih Mama marah? Nikah kan ibadah, Pa. Udah, ayo Mama temenin ke show room. Cari mobil buat dia. Mama kan dapet Alphard dari Papa. Kalau dia dapet Harrier, dia marah gak ya? Ah, nanti Papa yang milih deh. Mama temenin bayar aja."

Sekali lagi, hidup itu harus positif. Jadi, apa salahnya dicoba?
Positif aja, siapa tau istri nanggepinnya positif juga. Ya nggak? ;)
_________

Izzatush Shobihah menambahkan 5 foto baru — bersama Izzah Ling dan Zulaikha Indra Rukmana.
1 Oktober pukul 7:44 · 

Jadi, ceritanya gini. *lagi-lagi*
Si suami, Bang Mada, langsung ngibrit ambil wudhu keburu waktu shalat habis. Si Indra yang lagi nyari sandal kebingungan gara-gara suaminya gak ada di tempat semula. Bisa ditebak kan endingnya?

Ini adalah kejadian yang kesekian kalinya saya ditanya, "Mbak, suamiku dimana?" -_-
Should I build a husband bank?
*eh, bank suami itu bahasa Inggrisnya apa sih?*

Happy wedding, Zulaikha Indra Rukmana. Semoga sebulan ta'aruf yang dimulai 31 Agustus 2016 dan dikukuhkan 30 September 2016 bisa menjadi awal menuju keluarga sakinah mawaddah wa rahmah seumur hidup. ^_^







__________

Izzatush Shobihah membagikan sebuah kenangan.
1 Oktober pukul 7:23 · 

5 tahun yang lalu
Lihat Kenangan Anda

Izzatush Shobihah
1 Oktober 2011 · Jombang · 

Boleh tersandung tapi gak boleh jatuh; boleh jatuh tapi gak boleh cinta; boleh cinta asal berani njamin akan berumah tangga dengannya, bukan dengan orang lain..
-rumus sebelum nikah-
Cukup dogmatis, tapi perlu dicoba!
_________

Izzatush Shobihah membagikan sebuah kenangan.
1 Oktober pukul 7:22 · 

Eh, beneran ada ya mantra hepaticus reparo? *yang diinget cuma oculus reparo*

5 tahun yang lalu
Lihat Kenangan Anda

Yuslam Fahmi Ahmad di dalam pikiran yang ruwet.
1 Oktober 2011 · 

dalam dunia Harry Potter ada mantra penyembuhnya: Hepaticus Reparo, hehehe..
Tapi kalo dalam Islam cukup ingat:
- La tahzan innallaha ma'ana (jangan takut sesungguhnya Allah bersama kita)
- Inna ma'al 'usri yusron (sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan)
- Laa yukallifullahu nafsan illaa wus'aha (Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambaNya melebihi kapasitasnya)
- La haula wa laa quwwata illa billah (Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dari Allah)..
So, keep smile aja..^^

*komen mbak Izzatush Shobihah...
(ternyata q masih "hijau")