Minggu, 09 Februari 2020

Hari #6: Mulai Ada Shift

Pas ke ndalem belakang, hari ini, Jumat, 7 Februari 2020, di tempat duduk garasi ketemu Pak Iskandar, Ketua Pondok dan Mas Mahmud, Keamanan Pondok, juga beberapa orang yang jaga. Dari kemarin mulai diberlakukan shift jaga di ndalem belakang. Bu Nyai butuh istirahat, khawatir tamu membludak kayak sebelumnya. Pintu ndalem tutupan, tak kira ga boleh masuk atau ga nerima tamu. Ternyata Jumat memang hari 'istirahat' buat Bu Nyai, tapi kalau ada tamu masih dilayani. Makanya, kalau mau sowan, bilang dulu sama temen2 tadi biar disampaikan ke Bu Nyai. Nah, pintu ditutup itu berarti masih ada tamu di dalam. Ya Allah, Bu Nyai... Waktunya istirahat masih juga nerima tamu.










Tadi barengan sama kloternya ibuku, bareng Muslimat Perak. Karena pintu masih tutupan, akhirnya kloter ibuku ziarah dulu. Hari ini juga ada buku tamu. Bu Nyai ngutus bagiin jajan dan minum (Aqua). Karena saking banyaknya pengunjung kloter itu, ndilalah minumnya kurang padahal udah diisi sebelumnya. Makanya diisi lagi keranjangnya di sekitar pintu belakang. Pertama kalinya tau ruangan ndalem selain ruang tamu ya hari ini. Lihat foto-foto Bu Nyai dan Abah Yai di balik dinding ruang tamu juga hari ini. Tadi ketemu Gus Billy, tapi ga ketemu Gus Ipang. 

Bu Nyai juga pesen, kloter tamu berikutnya diminta duduk di tempat duduk garasi. Begitu tak sampaikan, ternyata tamunya juga banyak. Sampe ga muat. Bu Nyai memaklumi, biasanya tamu datang di ndalem pengasuh, lokasinya luas, sekarang ke ndalem pribadi. 

Akhirnya setelah kloter ibuku dan kloter berikutnya pulang, Mas Ndalem bilang jam 11 disudahi dulu. Ibu mau istirahat. Nanti jam 3 baru dibuka lagi. Finally, I went home.

Hari ini juga aku tau siapa yang nata sandalku, hehehe. Keluar dari ndalem, langsung sowan ke Abah Yai. Ternyata bunganya diperbarui. Hmmm, lihat kucing itu? Aku iri sama dia.

Btw, ada yang pinjam buku 7 Keajaiban Rezeki-ku dan akan dikembalikan sebelum 40 harinya Abah Yai. We'll see.

Hari #5: Ga Ketemu Bu Nyai

Hari ini, Kamis, 6 Februari 2020, aku ga ketemu Bu Nyai. Pas ke sana, ndalem tutupan. Mungkin sedang istirahat siang. Tak tinggal ziarah bentar, trus balik lagi ke tempat duduk garasi. Tak tunggu sampai jam 3 sore, baru setelah adzan ashar jam setengah 4, ada kabar beliau bangun tidur. Hanya bisa kirim salam karena harus segera pulang.

Semoga Bu Nyai baik-baik aja, ndak kecapean, mengingat biasanya jam 3 sore sudah menerima tamu, tapi ini setengah 4 baru bangun tidur.






Hari #4: Ada yang Menata Sepatuku

Jam setengah 2 siang, hari Rabu, 5 Februari 2020, aku mau sowan, lha kok pintu tutupan. Mungkin Bu Nyai istirahat~nantinya aku baru tau kalau Bu Nyai ga nutup pintu kalau masih ada tamu. Baru istirahat kalau udah ga ada tamu. Yang penting muliakan tamu, dhawuh beliau.

Ya udah tahlil dan Yasin dulu di gazebo utara makam. Tiba-tiba hujan deras. Sekitar jam 3 sore lebih, baru agak reda, rintik-rintik. Jadi, baru bisa masuk ke ndalem. Baru beberapa waktu masuk, ada tamu Gus Aab sekeluarga. Setelah mereka undur diri, aku tunjukkan ke Bu Nyai tentang video Abah Yai main gitar yang diupload follower @eventjombang_ di story IG.



Bu Nyai cerita banyak, termasuk dulu Abah Yai pas SMA ikut band. Tapi Bu Nyai melarang Abah Yai bawa gitar pas di Tebuireng. Jadi, dhawuh Bu Nyai, gitarnya taruh Jakarta aja, kalau mau main gitar, main di rumah aja, jangan di pondok. 😂 Tadi juga sempat cerita tentang statusku, tentang aku marah ada berita Abah Yai meninggal, tentang rencanaku sowan setiap hari hingga hari ke-100, dan Bu Nyai memang luar biasa. 52 tahun pernikahan, usia emas, bisa bertahan hingga dipisahkan oleh maut. 🥺 Bu Nyai kuat, Bu Nyai luar biasa. 💪

Pas aku pamitan pulang, Gus Ipang tetap di dalam (Gus Aab pulang, Gus Ipang masuk), ganti Gus Billy yang keluar pas aku nunjukin video Abah Yai main gitar. Kata Gus Billy, Abah Yai main gitar itu di rumah Jakarta.




Begitu keluar ndalem, tiba-tiba lihat pemandangan mengharukan. Ada yang menata sepatuku (awal masuk memang ditaruh sembarangan, karena banyak tamu), bersebelahan dengan sandal yang entah punya siapa. Allah... Apa aku pantas diperlakukan sedemikian terhormat? 😭
Untuk siapapun yang menata sepatuku, Allah memberkahimu.

Hari #3: Sowan Perdana

Pertama kali sowan Bu Nyai, hari ini 4 Februari 2020 di Ndalem Belakang, utaranya makam. 

Sowannya nunggu Opick ziarah dulu, baru aku masuk ndalem. 

Sempet ketemu Mas Ajudan secara ga sengaja juga, setelah fotbar terakhir awal Desember 2019. 

Pas masuk ndalem, Bu Nyai sempet tanya dari (organisasi) mana. Setelah tak jawab dirigen, beliau baru ingat dan langsung minta maaf. Ya Allah, sekelas beliau minta maaf ke aku hanya gara-gara ga inget siapa aku? Gustiiii... Siapakah saya ini, Bu Nyai, tak perlu diingatpun bukan sebuah dosa. Apalagi sampai minta maaf ke orang jelata macam saya. 

Ini pelajaran penting dari Bu Nyai Farida hari ini: Pandang semua orang sama rata. 

Pas keluar, sempet ketemu Ning Aisyah Muhammad. Dari hari ini aku berjanji akan sering-sering sowan ke Bu Nyai dan Abah Yai. Minimal sampai hari ke-7, syukur-syukur sampai hari ke-100.







Ternyata selama aku salaman dengan Bu Nyai, Mas Ajudan motoin. Dan baru sadar kalau busanaku dan Bu Nyai sama-sama hitam putihnya. Matur nuwun, Puh, udah dipotoin. Ga tau kapan motonya, tiba-tiba dikirimi 3 foto aja. ❤️

Hari #2: Pemakaman

Senin, 3 Februari 2020 

Ngajar rasanya masih pingin nangis. Nangis semaleman kayaknya masih kurang. Ya Allah gimana kondisi Bu Nyai yaaa... Di media tersebar foto beliau dipeluk Gus Billy, putra beliau, ketika turun dari pesawat begitu sampai di Jawa Timur dan disambut Gubernur. Dan wajah beliau sembab sekali. 

Aku sempat ke makam saat itu, lewat gerbang barat, tapi ga ada akses masuk makam. Gerbang ke lorong memang dibuka, tapi gerbang ke makam ditutup. Hanya akses pers dan petugas aja yang bisa masuk. Sekedar tau aja, dari semalem, tim redaksi dan admin akun yang tak pegang pada rame bikin caption ucapan belasungkawa. Termasuk aku yang pegang 5 akun medsos influencer. Abah Yai meninggal, perasaanku berantakan, pikiranku ga karuan. 

Jadi, di lorong makam itu aku cuma bisa liat proses penggalian kuburan untuk Abah Yai dengan berkarung-karung bunga tabur. Lalu balik lagi ke sekolah, karena masih ada jam ngajar. Abah Yai mintanya begitu, laksanakan tugas dulu. Baru yang ga wajib. Seharian itu aku ga berani ke makam. Jelas ramai. 

Akhirnya aku menuju ke Zabo Coffee and Resto, tempat ngopi langgananku, sekedar untuk melepas ingatan bahwa Abah Yai sudah tiada, sekaligus mengerjakan tugas presentasi menjelang pelatihan dirigen dengan anggota Dharma Wanita Persatuan Dikbud Jombang . Walaupun itu sia-sia, sebab Abah Yai juga pernah ngajak Mas Ajudan ngopi. Bahkan kopipun mengingatkanku pada Abah Yai. 😢


 Sehari sebelumnya, aku sempet buka lagi arsip postingan IG yang bareng Abah Yai. Ya Allah, berikan tempat terbaik untuk Kiai kami. Aaamiiiiin. 🙏

Hari #1: KH. Salahuddin Wahid Wafat

2 Februari 2020 kemarin, dikabari seorang teman bahwa beliau wafat, I was so angry. I said, "Don't make a joke, please!"

Tapi ternyata amarahku tak membawa hasil di luar kenyataan. Abah Yai seda. Hari Ahad, 2 Februari 2020, di RS Harapan Kita Jakarta. Tanggal yang manis tapi mencetak sejarah yang pahit. 😢 2 Februari malam adalah malam tangis seluruh mata yang pernah disapa oleh Abah Yai Sholah.

Keesokan harinya, Senin, tanggal 3 Februari 2020, jenazah dibawa ke Jombang untuk dimakamkan di pemakaman keluarga pesantren Tebuireng.

Awalnya, aku khawatir dengan kondisi Mas Ajudan, mengingat dia kemana-mana bareng beliau. Tapi lama-lama, perhatianku lebih ke Bu Nyai. Semoga beliau kuat. 52 tahun bersama Abah Yai dan beliau mendahului sepertinya bukan kondisi yang mudah diterima.

Karena itu, aku berniat untuk selalu mengunjungi beliau setiap hari setelah hari pemakaman itu hingga peringatan 100 hari Abah Yai. Dan aku udah matur Bu Nyai Farida mengenai hal ini. "Insya Allah saya usahakan datang ke sini setiap hari sampai 100 harinya Abah Yai, Bu. Jadi, kalau sering ketemu saya, mohon Bu Nyai tidak bosan." Dan Bu Nyai Farida menganggur sambil matur, "Iya, gapapa."

"Bu Nyai masih di Jombang kan?"
"Iya masih di Jombang kok."

Beberapa posting setelah ini sengaja aku pasang untuk memenuhi janji itu. Doakan semoga lancar ya.

Dan juga, Izzatush turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga seluruh amal Abah Yai diterima oleh Allah. Aaamiiiiin.

*NB: Aku nulis ini udah dalam kondisi stabil. Tulisan saat aku ga stabil ada di FBku, Izzatush Shobihah.