Minggu, 28 Maret 2010

Lagi-Lagi...

Tabungan: Minggu, 8 Juni 2008

Kemarin paz ngaji maghrib di ndalem, q dpt 1 puisi lagi. Dan ini ungkapanku coz saat itu juga aku ngerasa lega dan kesumpekan yang akhir2 ni menerpaku (ce ile...) eh, maksudnya kesalahan2 yg menyerangku baru2 ni, tu semua serasa lebih ringan. So, let's check the poem.

SEMBAH SYUKURKU

Senyum sabit yang kemarin menyapaku
Kini semakin lebar
Kini semakin benderang
Seterang kalbu ini

Entah angin surga mana yang mengguyur hatiku
Begitu sejuk
Begitu damai
Kosong perut ini terbayar
Aku kembali menghadapNya 
Dalam untaian sembah syukur yang panjang

Aku berbunga
Aku bermekaran
Tanpa kupupuk, tanpa kusiram

Namun Allahlah yang kehendaki
Panjatan doa itu hapus semua gulanaku
Aku yakin, aku pasti bisa

Dan semangat mengarungi ini
Ku dapatkan
Hanya dari-Nya
Bukan yang lain

Melainkan Ditambah, Bukan Dibagi

Tabungan: Selasa, 17 Juni 2008

Tasbih itu menguat erat
Kalbunya penuh dengan angin surga
Meski bermula dari rasa sakit yang mendalam
Tapi dia menumbuk rempah iman
Yang masih sulit untuk dicerna

Haru, menyelimuti hatinya
Sedih, yakin dia rasakan itu
Kecewa, perasaannya retak berkotak-kotak
Berat, saat surat itu ditulisnya

Namun dia percaya padaNya
Bahwa Sang Penguasa Pengadilan akhir akan curahkan
Secakrawala cinta

Tasbih itu menguat erat
Kalbunya penuh dengan angin surga
Bahwa dia yakin
Dimadu bukanlah bagaimana cinta dibagi
Tapi itulah langkah melebarkan sayap kasih


(Thank's 4 the inspiration, Mom!)

Sabtu, 27 Maret 2010

Wisemen Said...

Tabungan: Rabu, 25 Juni 2008

"Tidak masalah betapapun lamanya Anda menunggu obyek foto yang indah, Tuhan selalu berdiri di samping fotografer yang dipilih-Nya."
(Minor White)




"Pengetahuan sejati turun ketika semangat berkompetisi turun."
(J. Krishnamurti)


"Orang yang mengenal sesama adalah orang yang bijaksana, orang yang mengenal dirinya sendiri adalah orang yang tercerahkan."
(Lao Tze)


"Cermatilah kehendak Tuhan setiap hari!"
(C. G. Jung)


"Carilah dan Anda akan mendapatkannya-siapa yang tidak dicari tak akan pernah diketahui."
(Sophocles)

"Juallah kepintaranmu dan belilah kebingungan."
(Jalaluddin Rumi)

Ciri-Ciri Jodoh?

Kalo liat dari tulisannya Ustadz Restu Sugianto (Ustadz Cinta) dalam bukunya "Kalo Kamu Jatuh Cinta: Dari Geer Sampe Teler", tanda2 berjodoh itu ada 4 yang diawali huruf S semua (makanya disebut 4S), yakni:

1. Sama aura wajahnya
2. Selevel
3. Sering nyambung
4. Sulit cuek di hadapannya

Hmmm...
Jadi penasaran niy, siapa ya yang jadi jodohku kelak?

Ada yang bisa ngasih bocoran gak?

Kamis, 25 Maret 2010

Izinkan Aku MendekatiMu

Tabungan: 27 Mei 2008 (pz ultah Bunda)

Sakura itu jatuh
Tapi ada yang lebih jatuh lagi
Yakni air mata hati ini

Bunga tulip itu gugur layu
Tapi ada yang lebih layu lagi
Adalah harga diri yang semakin bejat ini

Eforbia itu layu lenyap
Namun ada yang lebih lenyap lagi
Ialah rasa malu yang semakin hari
Semakin memudar ini

Bungan alang-alang itu terbang
Tertiup angin senja
Tapi ada yang lebih terbang lagi
Karena tertiup angin maksiat
Itulah jarakku denganMu yang semakin hari
Semakin jauh
Lebih jauh daripada jarak ahli Jahannam
Dengan ahli Firdaus

Allah, dimanakah pada akhirnya ku akan menemuiMu?
Meskipun aku tak pantas berada di tamanMu
Tapi sungguh, aku tak berharap
Aku menemui murkaMu dalam cambukan neraka

Allah, kenalkanlah aku dengan surgaMu
Izinkan aku untuk mengerti akan diriMu
Izinkan aku mendekatiMu
Agar aku bisa bersamaMu dalam tamanMu
Kelak

Dia...

Tebungan: 7 Mei 2008


Kupandangi jalan itu sekali lagi. Sepi. Lengang. Yang ada hanya kehampaan. Dia sudah pergi.

Ketika ku kembali menuju pondok bambu itu, semua sesak serasa mencekam. Dadaku sakit. Tenggorokanku tercekat. Mata ini tak tahan dengan butiran air yang keluar begitu derasnya meski tanpa suara isak.

"Aku tak sanggup lagi!"

Sejenak.

"Mengapa dia tinggalkanku? Apa salahku?"

Embun di sudut mata itu jatuh ke punggung tangannya.

"Mengapa dia setega itu padaku?"

Dia mencoba untuk tegar dengan menahan isak.

"Aku gak terima, apa dia kira bisa dengan mudahnya menyuruhku untuk...."

Lemah itu menyergap lagi. Putus asa.

"....melupakannya...." Tangis itupun meledak

"Aku masih sayang dia, aku masih cinta dia! Ya Allah, beri aku kekuatan!" Dan tangis 23 April malam itupun memecah tenangnya jiwa.

Namun, sedikit waktu jiwa ini mereda. Apalah arti menggundahkan hati. Itu hanyalah cara Sang Terlaknat menjauhkan kita dari panggilan surga untuk berjumpa denganNya.

Bangsat!

Mengapa pikiranku masih teringat pada kejadian di malam itu? Malam dimana sebuah kepercayaan telah terluka. terluka dalam. Tanpa kasih, tanpa sayang.

(Ini fragmen kedua di Diary Merah, yang pertama ada di Diary Biru)

Allah, Aku Kalut!

Tabungan: Kamis, 3 Juli 2008



Dimana letak perasaan itu?
Ketika untuk yang ketiga kalinya
Aku melupakanMu

Panggilan dan seruan kalbuku
Tak pernah ku hiraukan

Allah, aku kalut
Aku tak ingin akhir hidupku
Tertutup seperti ini
Aku kalut, ya Allah!
Aku kalut!
SuratMu tak lagi kubuka
NamaMu telah ku lupa

Kesalahan

Tabungan: Kamis, 3 Juli 2008

Aku heran
Ketika iblis sudah nyata mendekatiku
Aku masih mau menggenggam tangannya

Aku benci
Aku benci pada diriku sendiri
Yang tak mampu memberi contoh
Bagi jiwa dan hatiku

Aku tak ingin mengulangi
Karena aku tak ingin hatiku berucap
"Mengapa bajingan sepertiku
Masih diperkenankan hidup?"

Ku Tak Bisa Berpaling

Tabungan: Kamis, 3 Juli 2008

Hatiku hanya satu
Tapi mengapa...
Ah, aku tak mampu bicara
Sungguh besar dosa yang ku tanggung
Hanya karena penguasa hatiku

Allah, maafkan aku!
Jika aku telah menduakanMu
Perlahan-lahan hatiku bukan lagi untukMu

Aku mencintaiMu , ya Allah!
Tapi aku juga mencintainya

Allah, jika memang cintaku padanya
Bisa membuatku jauh dariMu
Hilangkan rasa ini ya Allah!
Buang jauh-jauh dariku!
Allah, aku mohon...

Hatiku hanya satu
Dan harus kuputuskan
Siapa yang akan menguasainya

Tapi, ya Allah!
Aku merasa sakit jika harus berpisah darinya
Aku merasa aku tak bisa berpaling darinya

Allah, tegaskan aku!
Aku tak ingin berpaling dariMu
Tapi aku juga tak ingin jauh darinya
Aku hanya ingin menghadapMu
Bersama dirinya
Dalam kejernihan hati dan beningnya pikiran

(Alhamdulillahi robbil 'aalamiin...)

Rabu, 24 Maret 2010

Terpisah

Tabungan: Sabtu, 28 Juni 2008

Jika kau dengar api neraka itu menyapamu
Maka dengarlah suara merdu itu

Kau tenggelam lagi dalam putaran waktu
Waktu yang tak akan pernah lelah
Menamparmu, Meludahimu
Bahkan merobek-robek harga dirimu

Dan kini semua berpaling padamu
TIDAK!
Ini begitu silau!

Dulu kau pernah melewati bayangan
Bayangan tanpa mimpi
Berjuta tawa canda
Suka duka kita lalui bersama

Tapi sekarang?
Sadarlah!
Mimpi itu berakhir
Dan suara ini

Kau...
Bangunlah!
Kini telah tiga tahun dia hadir dalam hidupmu
Bangunlah mimpi baru! Pegang erat!
Dan suara itu...

Kau telah terjaga dalam teater dunia
Dari bayangan nyata mereka
Kini kau harus rela
Dikenang dan dipisah oleh jarak
Meskipun hatimu dan hati mereka masih satu

(Fragmen untuk Gelar Karya 2008 di PP. Al-Aqobah, Kwaron, Jombang)

Dari Sebuah Undangan, Ku Sisir Untuk Sahabatku....

Allah....

Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir

Allah....

Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu cinta sejatimu
Agar kerinduanku terhadapMu semakin menjadi

Allah....

Jika aku mesti mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintaiMu

Allah....

Ketika aku jatuh cinta
jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku padaMu

Allah...

Ketika aku berucap, "Aku cinta padamu"
Biar aku katakan pada yang hatinya tertaut padaMu
Agar tidak jatuh cinta yang bukan karenaMu

(Teruntuk sahabatku Ah. Mf. Bs., selamat menempuh hidup baru bersama dengan wanita sholihah yang benar2 menjadi madrasah buat semuanya, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah, wa banyak anaknah, yang sholih-sholihah dan berakhir dengan husnul khotimah, amiiiin...)

Senin, 15 Maret 2010

Dia Telah Menggantinya...

Baru ku sadari, Allah begitu bijaksana kepadaku. Gimana nggak? Ketika aku terlelah dalam isak, Dia memberiku sesuatu yang begitu sempurna: rasa itu hilang dan Dia mengizinkanku untuk belajar lebih banyak lagi tentang menjaga hati. Atau semacam itulah istilahnya. Segala ingatan dan rasa bahkan tentang istikhoroh itu perlahan mulai pudar seiring Dia membuka jendela cahaya untukku. Tak hanya itu, Dia juga menggantinya dengan yang insya Allah mengajakku lebih mendekat kepadaNya.

Rasa takut itu hilang, masa lalu yang surampun mulai menjauh, pintu kasihNya seakan-akan begitu dekat denganku...

Allah, terima kasih atas tergantikannya air mata itu...

Kini akan ku sambut hari-hari indahku dengan penuh cerita bahagia sembari menunggu kejutan apalagi yang akan Kau berikan kepadaku demi masa depanku yang lebih cerah dari yang ku impikan. Ya! Masa depan bersamaMu yang tanpa ada penyesalan...

Sabtu, 02 Januari 2010

Taushiyah untuk Kalbuku

Memang benar, Rosulullah menikahi Aisyah dan berpoligami setelah Khodijah meninggal...
Memang benar, pria tak pantas berpoligami sebelum istri pertamanya meninggal...
Tapi, Saudara senuraniku...
Pahamilah...

Poligami bukanlah pertanda bahwa cintamu terbagi
Tapi poligami adalah bukti besar
Bahwa suamimu adalah orang yang kaya akan cinta
Dan dia tak ingin memberikan beban yang begitu berat
Hanya kepada orang yang dicintainya

Wahai generasi muslimah luar biasa...

Bersiaplah untuk menjadi yang pertama bagi suamimu
Namun berlapanglah manakala dia memilih untuk memadumu
Selama Allah masih meridhoinya, engkau tak berhak mengubahnya

Karena memang menyakitkan
Melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain
Tapi lebih menyakitkan lagi
Jika orang yang kita cintai tak bisa bahagia bersama kita


(Mom, thanks for the inspiration!)

Selasa, 08 Desember 2009

Tanpa Judul

Hanya sekedar berkisah
Tanpa mulut tanpa suara
Sekedar bergurau tanpa upah
Tanpa tawa, apalagi berbahagia

Jika aku berlaku adil pada semua orang
Aku semakin tak mengerti
Apakah adil itu membagi sama rata?
Ataukah membagi sesuai porsinya?
Ataukah memberi tanpa memandang akibatnya?

Jika aku harus bersikap terbuka
Apakah aku berdosa jika aku tolak cinta si A?
Apakah aku bersalah jika aku buka telapak hatiku untuk si B?
Padahal dalam diri ini hanya ada satu sosok
Yang terpatri untuk melewati sisa usia yang semakin sesak

Jika aku harus mencintai
Apakah aku pantas mencintainya yang begitu agung?
Meski diri ini penuh harap bisa melewatkan waktu bersama dengannya
Tapi, apakah sisa rusukku yang sesungguhnya tak kan tersakiti?


Hanya sekedar berdoa
Tanpa berani, tanpa terbata
Namun hanya nurani yang bisa tengadahkan air mata
Semoga Yang Maha Cinta mengizinkan aku menerima semua keadilan ini
Dengan terbuka

(Teruntuk impian hati yang aku masih menanti kepastiannya, aku akan menunggumu...)

Minggu, 08 November 2009

Hidangan jiwa...

Allah, aku membutuhkan genggaman lembut tanganMu.

Ada hal yang tidak bisa aku lakukan tanpa pengaruh seseorang yang bisa membuatku bersemangat. Tapi sesungguhnya dalam hatiku aku ingin istiqomah dengan apa yang sudah bisa aku lakukan dan sesuai dengan nuraniku. Aku ingin bisa mandiri dengan bimbinganMu. Tentunya dengan segala kemampuan yang dibatasi oleh waktu, ruang, umur dan ajal. Aku ingin memanfaatkan apa yang Engkau berikan dengan sebaik2nya. Baru saja aku menyaksikan acara Dunia Air di Trans 7 yang menayangkan ikan predator dalam air tawar. Yang ku saksikan adalah ikan piranha perut merah yang diberi makan katak utuh. Dalam sekejap, katak tersebut sudah habis dilalap oleh piranha2 ganas itu. Aku jadi berpikir, apa sih yang sebenarnya ada dalam pikiran piranha itu ketika disuguhi mangsa sehingga mereka mau menyerbunya tanpa belas kasih? Apakah piranha perut merah itu berdosa jika dia tidak memakan makanan yang diberikan saat mereka lapar? Apa itu juga berlaku pada diriku? Apakah aku berdosa jika aku tidak mengambil kesempatan yang telah Allah berikan kepadaku saat kondisiku benar2 menunjukkan bahwa aku butuh kesempatan itu? Apakah itu berlaku hanya pada kesempatan bertaubat atau juga berlaku pada suasana hatiku?

Allah, maafkan aku.

Akhir2 ini waktuku benar2 tersita hanya karena memikirkan makhlukMu, bukan diriMu. Allah, aku mohon. Jika dia memang tercipta untukku, jagalah hati dan perasaan ini hanya untukMu, mencintainya hanya karenaMu dan satukanlah kami dalam ridho dan rahmatMu. Namun jika Engkau tak mengizinkannya bersamaku, tolong hilangkanlah rasa ini dan gantilah dia dengan yang lebih baik untuk masa depan yang lebih cerah dan bahagia. Allah, izinkanlah aku menyayangi siapapun yang menjadi suamiku kelak.

Allah, aku butuh bimbinganMu.

Tolong jangan biarkan aku menjauh dariMu setelah aku berhasil mendekatiMu dengan segala istiqomahku. Allah, tolong kendalikan aku tetap lurus dalam hidayahMu seperti Engkau mengendalikan konsistensi air yang terus mengalir dalam siklus hujanMu. Tolong jangan biarkan aku menyesal dengan apa yang aku lakukan. Jangan biarkan aku putus asa dengan cita2 dan masa laluku. Jangan biarkan aku berlarut2 dalam kesedihanku. Berikanlah aku yang terbaik dari yang pernah dan akan ada. Tuhanku, jangan biarkan aku kehilangan kestabilan emosiku dan kehilangan kendali yang membuat musuhku dan musuhMu semakin berpesta pora. Janganlah Engkau mengizinkan keceriaan dan ketenangan yang awalnya akan Engkau limpahkan kepadaku menjadi terhambat hanya karena kesalahan yang telah aku lakukan sehingga membuatMu semakin cemburu padaku. Allah, berilah aku kekuatan untuk menghadapi semua kehendakMu. Tolong jaga aku untuk menjadi diriku sendiri yang sesuai dengan apa yang Engkau mau. Jadikanlah setiap yang aku inginkan dan aku lakukan adalah apa yang Engkau ridhoi dan Engkau kehendaki sebagai pemberian dariMu yang terbaik untukku. Biarkanlah aku bersabar sedikit lebih lama untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik dalam hidupku.

Allah, aku menyadari bahwa yang aku inginkan hanyalah mencintaiMu. Mengukir masa depan bersama ridhoMu. Melewati sisa waktuku bersamaMu. Mengakhiri nafas dan detak jantungku bersama asmaMu. Dan yang pasti, aku ingin bertemu denganMu di akhirat nanti.

Oleh karena itu, jangan biarkan aku kehilangan ladang dakwahku. Buatlah aku bersemangat menghadapi hari2ku dan izinkanlah aku membahagiakan orang2 yang mencintaiku karenaMu.

Allah, Masih Ada DiriMu di Kehidupan Ini

(Tadi sore, q nulis ini di laptopnya mas Brinticz paz lagi ada pengajian+arisan+rapat pengurus alumni di Basecamp FASSAL. Keyboard2 itu tertekan oleh jemari ketika dendam itu mulai luntur dari dekilnya)

Bertemu dengan berbagai macam manusia membuatku semakin yakin bahwa kebahagiaanku tengah berada di sekelilingku. Mereka menyambut diriku dan itu membuatku yakin ada cinta yang menginginkan kaki mereka tak beranjak dari tempat dimana aku berada saat itu. Dan itu aku artikan: mereka menerimaku.

Allah, thanks a lot…

Masih ada cinta yang mendampingiku sehingga aku masih bisa bertahan meski syahriah asramaku nunggak lima bulan *tentunya aku harus beli –ato seenggaknya punya- label TANPA KEMALUAN (baca: tanpa rasa malu) yang menempel di jidatku*; meski ada banyak konflik *lebih tepatnya cek-cok positif* yang masih belum bisa ku taklukkan dengan cara pikir dewasa; meski aku harus dibayang2i pemilihan kata2: milih bapak ato ibu, seandainya mereka positif menandatangani surat “antireparasi edisi terakhir”; dan meski2 yang lainnya.

Tapi…

Aku yakin aku bisa menghadapinya. Bukankah segala sesuatu yang gak bisa ditolak kehadirannya secara ikhlas gak ikhlas, seneng gak seneng, marah gak marah, melek gak melek, itu semua memang harus dihadapi? Tul gak? *jawab iya dong!* Pikirku, selama aku masih mengayuh sepeda kehidupan, maka roda takdir juga akan ikut berputar, entah itu dengan kondisi ban yang masih baru dan awet atopun dengan kondisi ban yang udah aus dan minta diopname di bengkel religi. Selama aku hidup dan menjalani kehidupan dengan pengendali darahku adalah Allah, maka bukan ide yang bagus jika aku menolak pemberianNya. Disadari ato nggak, kecewa, bahagia *misal: habis ditraktir bakso 32 hari sebulan*, sakit hati *bisa karena pacar, bisa juga karena nasi goreng buat sarapan ditumpahi es teh secara gak sengaja oleh musuh kita*, dimarahi, ditolak tao ditembak *awas pelurunya bajakan&gak dapet izin dari pemilik hak ciptanya!* juga termasuk pemberianNya.

Aku pernah berpikir bagaimana dulu aku bisa tidak diterima oleh sekelompok orang yang gak mengakui keberadaanku di sekitar mereka. Oke! Aku bisa terima, tapi tolong jangan harap aku mau kembali gabung dengan kalian2 semua tanpa pertimbangan, batinku saat itu. Tapi sekarang aku mulai berpikir, weleh, paling2 bentar lagi Allah akan memutar roda sepedaku dan tak akan membiarkan mereka selamanya berada di atas dengan berbagai sanjungan dan taburan bunga. Yah, kita tunggu aja gimana endingnya: hepi ending, sed endink *eh, tulisannya bener gak siy?* ato penasaran ending. Ato jangan2 kapan taburan bunga itu berupa bunga kamboja putih! *wakakakakakak, ni mau curhat apa mau ziarah?*

Nyak, nyak nyak nyak...
Dari pengalaman2 seperti itu biarkanlah mereka yang mengakui bahwa dunia ini miliknya berkoar2 tanpa corong. Meski mereka tak lagi mau mengakui keberadaan kita, tapi Allah berbeda dengan mereka. Allah masih sayang pada kita, Allah masih cinta dan peduli pada makhlukNya, selemah apapun makhluk itu. Sekalipun mereka2 tak menganggap kita ada, tapi toh Allah masih berada di pihak kita *selama kita gak ganti profesi dari penjahit jadi penjahat lo ya!*, nyatanya mereka gak bisa mendapatkan semua pengalaman yang telah kita lalui. Toh nyatanya mereka gak bisa merasakan indahnya mencintai, peduli dan mengakui keberadaan orang lain. Toh nyatanya... *silakan cari toh-toh yang lain, selain yang nempel di badan (kalo itu mah toh-nya beda)!*

Kini saatnya mencoba untuk menenangkan dan menghibur diri dengan mengakui bahwa mereka bukan siapa2, mengakui dengan jujur bahwa dunia ini bukan milikku, bukan milik kita dan juga bukan milik mereka. Kita bukan Tuhan, merekapun juga bukan *apalagi lebih dari Tuhan!*... Toh, pada akhirnya Allah-lah satu2nya yang berhak mengakui bahwa dunia dan kehidupan ini *tentunya dan seisinya plus sekulitnya –emang dunia punya kulit ya?-* adalah milikNya, bukan mereka.

Selasa, 03 November 2009

Allah, Forgive Me…

Tertanggal: 27 Agustus 2009 (dengan berbagai suntingan)

Allah, izinkan aku menjemput taubatku sebelum maut menjemput waktuku.

Izikan aku meraih ketenangan bersamaMu karena bagiku tiada masa depan yang indah seindah cita-cita berada di sisiMu.

Allah, aku malu pada air wudhu yang setiap hari mengalir di wajahku, tanganku dan kakiku. Tapi, kesuciannya tak mampu menjernihkan hatiku yang terlalu kusut.

Allah, aku malu pada angina tahajud yang setiap malam masuk ke paru-paruku dan menyatu di dalam darahku. Tapi, hembusannya tak mampu menyapu bersih pikiran kotor di otakku.

Allah, aku malu pada tanah masjid dan pesantren yang ku pijak. Tapi, mereka tak mampu menumbuhkan kerendahan hati dalam hidupku.

Allah, aku malu pada api neraka yang siap merebus jantung dan ususku. Tapi, percikan dan cambukannya tak mampu mendekat padaMu.

Allah, aku malu pada diriku sendiri yang hanya menang teori tapi kalah implementasi, yang hanya bisa bicara tanpa kerja dan hanya bisa berucap khilaf tanpa ada permohonan dan pemberian maaf. Ampuni aku, ya Allah!

Inti dan Makna yang Hilang

Tertanggal: 26 Agustus 2009 pz subuh (dengan berbagai suntingan)

Otak begitu sibuk mempersiapkan apa yang harus dicapai di Romadhon tahun ini. Bukannya suka cita yang q dapet, justru sebaliknya, aku semakin resah. “Kebiasaan buruk” yang seharusnya q hilangkan –atau minimal- dihentikan, tak bisa lagi q bendung. Bahkan pernah suatu hari di bulan yang orang2 bilang suci ini q masih melakukan keburukan itu. Hamper saja puasaku batal jika q melewati akhir imsak. Memang benar, aku belum sepenuhnya siap bergabung dengan para malaikat di bulan puasa kali ini.

Target Romadhon pun gak tersusun dan terancang secara rapi. Coba aja baca postingan Awal yang Buruk! Tiga target utama itu hanya omong kosong belaka. Cuma karya contekan. Sekedar formalitas biar ada agenda. Padahal beberapa hari setelah itu target tersebut q ubah menjadi sholat di awal waktu. Rasionalisasinya, q harus mbenahi hal yang paling pokok dulu: Sholat. Tapi, itu semua terabaikan. Lagi-lagi amatiran.

Baru kemarin q mengubah target Romadhonq kali ini: Mendapatkan ketenangan bersama Allah SWT. Lebih general siy, tapi juga lebih melegakan. Karena biar gimanapun kalo targetnya bisa tetep q pegang maka q juga akan terpicu untuk mencari ketenangan.

Tapi apa yang tejadi saat ini?

Adzan subuh sudah berkumandang dari tadi tapi q masih juga mlungker di samping adikku, Ayu. Lagi-lagi target itu hanya teori.

Ah, entahlah! Apakah nanti targetku berubah, aku sendiri masih menganut penasaranisme. Moga-moga aja q segera menemukan kembali makna Romadhon yang jelas2 q implementasikan. Bukan sekedar wacana ataupun hanya gonggongan anjing tua.

Allah…

Tertanggal: 22 Agustus 2009 pkl: 10:03

Doa ini…

Allah aku pasrah…

Jika dia bukan jodohku, tolong jauhkan dia dariku, buang jauh-jauh rasa ini dan gantikanlah dia dg yg lebih baik.

Namun jika Engkau menakdirkannya untukku, q mohon segeralah Engkau satukan kami dalam tali kasihMu agar hati ini tetap terjaga untukMu.

Amin…

Awal yang Buruk

Tertanggal: 22 Agustus 2009 (1 Romadhon 1430 H) pkl: 07:06

Semalem alhamdulillah tarawih lancer tanpa ada halangan yang berhubungan dengan “banjir” di tengah sholat. Tapi parahnya…

Agenda targetku gak terpenuhi seutuhnya.

Coba pikir, parah gak siy sholat subuh dilaksanain jam 06:00an? Padahal sahur dan tahajudnya udah. Yah, niatnya jadi sholat subha niy, subuh+dhuha. Ini yang pertama.

Yang kedua, q belum nyusun jadwal target secara terperinci. Hanya beberapa target aja.

(Eh, ada Avatar. Pending dulu!)

Oke, balik lagi. Barusan Avatarnya tamat. Endingnya Zuko dan Aang serta semua Negara elemen bersatu dalam damai. Next, back to the first. Semalem, sebelum tarawih, q mikirin apa targetq Romadhon ini. Ada 3 target utama:
1. Khatam 30 juz Al-Qur’an
2. Sholat tahajud rutin (4 salam tahajud, 1 salam hajat)
3. Shodaqoh (gak bisa bilang dulu neh, privasi bgt!)

Tapi, setelah q mastikan 3 target tu, q jadi mikir lagi, gimana dengan dhuhaku, murojaahku, doa harianku dan pengendalian emosiku (ni yg paling penting!). akhirnya q berkesimpulan, jalani aja apa yg aq bisa selama itu positif. Gak perlu diburu target ato malah pengen nambah target. Setidaknya ada prestasi yang mbuatku semakin terpacu untuk bisa melangkah menuju cita-citaku: Istri sholihah yang hafal Quran.

Met ngendalikan nafsu ya Toez!